A Passion To Movies

Saturday, November 03, 2007

Mata gadis itu terbelalak. Tangannya mengenggam erat sebuah benda yang juga menjadi titik pusat pandangannya. Napasnya memburu, jantungnya pun berdegup tak kalah kencang. Setetes demi setetes keringat dingin mulai menghiasi pelipis dan wajahnya. Ia pun kembali menatap benda di genggamannya. Satu kedip, dua kedip. Ternyata tulisan itu nyata dan benar adanya. Ia pun kembali mengejanya… JI..F..FE…ST… 2007.


YEAAAAAAAAAAY!!! Jiffest bakal ada lagi akhir taun ini!!!


Mohon dimaafkan untuk pembukaan yang sedikit dramatis dan berlebihan tadi. Hehehe.. Tapi… have you ever feel the same like I do? I mean if you face something that you really give a bunch of passion to it and suddenly your heart beats faster and faster..? Well, that’s what I feel to MOVIES. Not just the movies it self but to all the things that related to it. Misalnya nih ya, waktu saya membaca kalau film Garin Nugroho, Opera Jawa, berhasil memperoleh pujian bintang lima dari salah satu koran terkemuka di Inggris, saya langsung deg-degan. Saya ikut membuncah! Saya juga bangga dengan prestasi salah satu maestro perfilman Indonesia saat ini tersebut. Tapi sekaligus saya juga sedih dan menyesal karena tidak sempat menonton Opera Jawa yang penayangannya di bioskop-bioskop Indonesia sangat terbatas (yaaah.. tau sendiri lah selera film orang Indonesia kaya gimana..). Atau ketika saya usai menonton The Photograph yang tampil apik melalui tangan dingin sutradara wanita Indonesia Nan. T. Achnas, saya cuma bisa melongo dan terkagum-kagum. Atau waktu dua orang teman saya berhasil memenangkan sebuah festival film indie dan nama mereka muncul di majalah, saya juga deg-degan, entah kenapa. Atau ketika saya menonton film-film luar negeri dengan ide cerita brilian yang ditampilkan dengan sempurna hingga seolah-olah saya berada di dalam cerita itu seperti Oldboy (2003), Requiem for A Dream (2000), The Shining (1980), Little Miss Sunshine (2006), Crash (2004), El Laberinto del fauno (2006), Sophie Scholl – Die letzten Tage (2005) dan masih banyak lagi, saya terpaku dan ngacai lalu bertanya-tanya “How come they made those such movies??!!!”...


Intinya, saat saya menonton film bagus, baik itu film dalam ataupun luar negeri, rasanya saya merasakan kenikmatan dan kepuasan yang luar biasa. Seperti seorang junkie, saya pun mencandu. Haus kepingin menonton film serupa yang tak kalah bagusnya. Saya juga gemar membaca review-review film, membuka IMDB.com atau sinema-indonesia.com, membaca sejarah film, majalah-majalah film, mencari tahu film apakah yang memang telah diakui oleh masyarakat dunia sebagai film berkualitas tinggi. Baik itu film dari era 2000-an maupun 70-an, 80-an bahkan 30-an sekaligus. Saya juga kerap menandai sutradara-sutradara mana yang handal. Yang mampu menciptakan suatu mahakarya. Tidak hanya sutradara Hollywood saja, Wong Kar Wai, Ang Lee sutradara-sutradara Asia yang selalu membuat saya bertanya dan berharap, kapan Indonesia akan memiliki sutradara yang namanya diakui dunia…


Tampaknya harapan saya perlahan-lahan mulai terjawab. Garin dengan Opera Jawa-nya yang melanglang ke festival-festival di seluruh dunia, Joko yang selalu menghasilkan film yang berkualitas dengan Kala sebagai film terbarunya yang juga telah berkeliling ke beberapa festival film di Asia (and also to Vancouver Int’l Film Festival!!) dan bahkan ketika di Osian’s Cinefan Film Festival (at Mumbai) dan di Bangkok International Film Festival tiketnya sold-out (yeah.. sold-out like SOLD-OUT beibeh!), Teh Nia dengan Berbagi Suami-nya yang sangat cerdas dan juga telah memperoleh beberapa penghargaan di luar Indonesia namun di negeri tuan rumahnya sendiri tidak masuk di jajaran Film Terbaik versi FFI 2006 akibat kearoganan Dewan Juri yang terhormat (Cinemags, 2007), Ibu Nan T. Achnas dengan The Photograph-nya yang sangat penuh makna, dan juga tidak melupakan Mbak Mira Lesmana dan Mas Riri Riza yang mengembalikan nafas perfilman Indonesia melalui Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta, semenjak keterpurukannya pada tahun 90-an.


Ya, film adalah gairah saya. Film bukan sekedar hobi bagi saya. Jika saya lebih berani dan mampu mengenyahkan doktrin bahwa menjadi insinyur dari suatu universitas terkemuka di Indonesia adalah sesuatu yang sangat membanggakan, mungkin saya sudah banting stir dan mengambil jurusan film. Tapi saya tidak pernah menyesal. Karena ternyata mempelajari sesuatu yang dicintai dengan sepenuh hati, walaupun secara otodidak, sangat terasa menyenangkan.