My DNA

Tuesday, July 31, 2007

Ada web lucu dan keren! Check this out!

Friday, July 27, 2007


You are the World


Completion, Good Reward.


The World is the final card of the Major Arcana, and as such represents saturnian energies, time, and completion.


The World card pictures a dancer in a Yoni (sometimes made of laurel leaves). The Yoni symbolizes the great Mother, the cervix through which everything is born, and also the doorway to the next life after death. It is indicative of a complete circle. Everything is finally coming together, successfully and at last. You will get that Ph.D. you've been working for years to complete, graduate at long last, marry after a long engagement, or finish that huge project. This card is not for little ends, but for big ones, important ones, ones that come with well earned cheers and acknowledgements. Your hard work, knowledge, wisdom, patience, etc, will absolutely pay-off; you've done everything right.


What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.

Believe it...?

A lil' funny surprise this morning

Thursday, July 26, 2007

Di suatu pagi...

Yeni (PRT di kost gw) : Mba rati, ada titipan ni dari Ibu.. (Ibu kost,red.)

Ratie : Hah? Apaan..? [mata masih setengah terbuka, rambut awut-awutan, beranjak untuk mengambil segelas air]

Yeni : Nih... [mengangsurkan segepok barang yang tampak seperti kain atau kaos]

Ratie : [membuka lipatan kaos tersebut dan menemukan gambar Fauzi Bowo tercetak pada kaos, beserta pin bergambar serupa dan booklet kecil dengan cover yang (lagi-lagi) sama dan bertuliskan "Jakarta untuk Semua!"]

Ratie : Buat saya,yen? [terkejut dan sedikit jijay..]

Yeni : Iya, kan Bapak (bapak kost,red.) sepupunya Fauzi Bowo.

Ratie : Okaay... [terhuyung berjalan ke kamar dan merasa lucu...]


Dont expect me to vote, Mr.Fauzi Bowo... Haha...

KAMU

Monday, July 23, 2007

Bangun pagi ini dan kutemukan KAMU. Kemudian berita pagi, pembunuhan lagi. Gosip selebritis, sarapan pagi, mari mandi. Masih enggan beranjak, malas.. lalu KAMU lagi. Aaahh.. mandi,mandi, byarbyurbyarbyur! Kubasuh badan, kuguyur kepala, dingin. Tapi KAMU tidak pergi. Padahal KAMU panas! Harusnya jika kuguyur kepalaku KAMU pergi!

Berangkat, selamat berdesak-desak. Kulangkahkan kaki memasuki polusi dan korupsi. Korupsi busuk, polusi sesak tapi KAMU tidak. KAMU menyenangkan, manis, baik, BAIK, sangat baik, terlalu baik.. Hatiku panas. Panas! Seperti bis sesak ini, copet dimana-mana. Terlintas lagi berita pagi. Chaos. Negeri ini chaos sampai KAMU datang lagi. Pelangi.

Tiba di depan meja. Aku butuh kopi. Pantry. Kutekan tombol pada mesin espresso dan KAMU mengalir keluar dari sana. Menyambutku ya? Terimakasih. Tak perlu repot-repot karena sebentar lagi KAMU harus pergi. Kertas-kertas, jemari yang menari di atas tuts-tuts laptop, meeting, report. Sejenak tak ada KAMU. Tunggu, itu KAMU datang lagi.

Makan siang, keluar sejenak dari gedung ber-AC untuk menyapa teriknya mentari. KAMU menemani. Selalu setia menggelayuti sel-sel otakku. Foodcourt. Tak lebih dari makanan hambar nan mahal. KAMU selalu membenci foodcourt. Huh! Kenapa KAMU lagi?? Padahal hari belum habis setengahnya. Makanmakanmakan. Tak ada rasa. Semua rasa yang kupunya tlah KAMU bawa.

Kembali ke meja. Laptop yang menyala menantangku untuk melupakan KAMU. Kembali bekerja. Kertas-kertas, jemari yang menari di atas tuts-tuts laptop, tabel-tabel, ketikketikketik, pening, pusing, aku ingin pulang, aku ingin KAMU.

Pulang, Koantas Bima kuning telah menanti untuk menelanku bulat-bulat dan memuntahkanku 15 menit kemudian. Lompat, desak, bertahan. Andai ada KAMU. Yang selalu memanjakanku. Sudah. Aku lelah dengan KAMU! Tapi serangan terbesarMU tiba seiring dengan datangnya malam. Setengah hari tadi belum ada apa-apanya.

Tiba di kamar, kuhempaskan badan kepada ranjang. Tatapanku menerawang. Langit-langit kamar yang putih berubah menjadi KAMU. Aku berbalik ke kiri. Jejeran foto-fotoku dan handai taulan. KAMU jelas ada disitu. Di salah satu foto, bahkan hanya ada aku dan KAMU. Disana KAMU merangkulku. KAMU memberikan bahu untuk kepalaku. BahuMU adalah sandaran ternyamanku. Hei, itu dulu! Ya.. aku tahu.. Berbalik ke kanan. Mataku bersirobok dengan dinding putih. Lalu disitu ada KAMU. Lagi-lagi KAMU. Namun kali ini, bibirMU begitu dekat dengan bibirku. Aku bisa mencium wangiMU. Sedikit saja berusaha, mungkin aku juga bisa menyentuhMU. MenciumMU..

SUDAH!! Hentikaan..

KAMU membuatku sedih.. Hari ini, terlalu banyak KAMU dalam otakku.. Biarkan aku sendiri... Biarkan aku selamanya tanpa KAMU. Karena kita adalah maya. KAMU pun tahu itu. Jadi untuk apa berusaha? Aku janji, aku akan baik-baik saja. Jika KAMU rindu, tataplah aku dari kejauhan. Dan jika KAMU melihat bening di sudut itu, itu untukMU. Bening itu adalah KAMU.


You, inside my eyes again. You think you feel my pain. In a moment, In a dump place, and You, beyond my mind again. You think you feel my pain. In a moment, In a dump place, and every time I stare at the sky it seems so, so bright. And I keep thinking where you are.. And I keep thinking where you are.. And I keep thinking where you are.. And I keep thinking there you are...
[Stereomantic-You]

Djakarta

Friday, July 20, 2007

Fake friends. Perfect strangers. Alter ego. Crowd. Skycrapper. Traffic jam. Nightlife. Beer and get drunk. Workworkwork. Mosquitos. Gay and lesbo. Wild. Chaos. Moneyz and monkeyzzz. Not enough sleep. Crap!. Call girl. Shopping. Narcism. Stylish. Taxis. Hectic. Citylights. Lies. Zillionss of dreams. Hope. Atheist. Politics. Poverty. Betrayal. Dust and smoke. Drugs. Sick. Bribe. Sex for sale. Chronic depressed. Corruption. Numb. Deranged.


What a lovely Jakarta...

Secangkir Cinta Hangat

Ini puisi lama, tapi saya suka...


Aku ingin secangkir CINTA hangat.
Kental dan mengepul.
Menguarkan aroma bahagia dan tawa.

Aku ingin secangkir CINTA hangat.
Kutenggak hingga habis.
Aku mabuk, senang dan kemudian berlari-lari telanjang.

Sombong

Thursday, July 19, 2007

Saya ga bisa ngerti sama orang sombong. Sama kaya saya ga bisa ngerti sama orang yang punya sifat jahat, seperti culas, tukang bohong, tukang adu domba atau tukang memuji-di-depan-menikam-di-belakang. Sebenarnya apa ya keuntungan yang mereka dapat dari semua itu? Apa mereka tambah disukai? Tambah banyak teman? Tambah cantik ato ganteng? Tambah pinter?? Tambah HEBAT? Dipandang???

APA???

Yang ada mereka cuma bikin sebel, bikin dosa... Bikin orang lain ribut, berantem.. Bikin malesssssss... Males rasanya deket-deket sama orang sombong. Males rasanya dengerin celotehan, bualan, saya-punya-ini-punya-itu, saya-bisa-ini-bisa-itu dalam nada tinggi yang arogan. Males juga ngomong sama mereka karena mereka selalu merasa mereka yang paling benar.

Ok.. kamu pintar, sekolah di Amrik sono, bapak kamu kaya.. mobil sejibun, rumah ga keitung, apartemen sampe Alaska juga punya! Tapi apa gunanya kalau kamu S.O.M.B.O.N.G? Apa disitu letak kebahagian kamu?

Yah.. tak tahulah.. Karena semoga, saya tidak pernah merasakan jadi orang itu.

Televisi

Wednesday, July 18, 2007

Ketika suatu hari pacar saya, anky, mengutarakan niatnya untuk membeli televisi, tidak pernah terlintas di benak saya untuk ikut patungan membelinya. Tapi beberapa hari yang lalu, saat anky meminta saya untuk menemaninya membeli tv, tiba-tiba saja saya menawarkan untuk ikut nyumbang dan menjadi salah satu dari dua investor pemilik tv tersebut. Haha.. Sebenarnya saya sedikit terinspirasi oleh teman saya.. Dia bilang, "lumayan kan ti, nyicil-nyicil barang dari sekarang buat ngisi rumah nanti.."

Ngisi rumah..? Hmmmmm.... Ide bagus!

Nah, karena kesadaran itulah akhirnya saya menawarkan diri untuk ikut patungan beli tv dan anky tampaknya setuju sekali dengan ide tersebut. So, tadi malam pergilah kami berdua ke sebuah hypermarket di sekitar jalan sudirman. Sebelum sampai disana, kami makan dulu dan pilihan malam itu jatuh pada sebuah restoran cepat saji berinisial M.C.D (haha..) yang letaknya tidak jauh dari hypermarket tersebut. Kenapa kami memilih restoran tersebut padahal makanan tersebut enak-tapi-tidak-sehat? pertama, karena kami tidak punya banyak waktu malam itu dan kedua, anky lagi banyak duit.. hihi.. Jadilah dia mentraktir saya malam itu (atau lebih tepatnya saya sedikit 'merayu' anky untuk ngebayarin saya.. hehe..)

Inilah bekas-bekas makanan kami.. (Jangan lupa buang sampah pada tempatnya!)

Setelah kenyang, dengan sedikit terburu-buru kami pun melanjutkan perjalanan membeli tv. Sambil jalan saya membayangkan tv seperti apa yang saya inginkan.. Kalau ada mungkin yang warnanya pink! Ahaha.. Anky ga akan mau lah.. Akhirnya kami pun tiba di hypermarket yang dituju. Pilihan tv disana cukup banyak.. Dari yang 14 inch sampai lebih dari 29 inch. Dari yang 600 ribu sampai yang lebih dari 12 juta. Setelah berdiskusi dengan sang pacar, pilihan pun jatuh pada.....

Samsung 21 inch Ultra Slim!

Tadaaa... melihat, menimbang dan memutuskan... Yah, memang saya udah jatuh cinta sama si Samsung Ultra Slim itu.. ;P Anky juga kayanya setuju. Tapi.. apalagi ya yang harus dipikirkan saat membeli sebuah televisi? Listrik 100 watt, yah.. ok lah.. ga terlalu besar kan? Gambar juga bening, bagus.. Suara yang keluar stereo, nearly dolby.. (Haha.. ga segitunya sih..) Remote ada, tapi antena ga dikasih. Apalagi yah? Takut nyesel nih.. Bismillah aja deh.. Hehe..

Finally, dibayarlah si tv itu. Dan kami pun segera pulang dengan menggunakan taksi. Tujuan pertama adalah ke kost-nya anky. Sesampainya di kost anky, tampak tidak ada kehidupan alias sepi.. Saya pun menyuruh anky mencari teman untuk membantunya mengangkut si tv baru ke kamarnya. Tapi sayang sekali, malam itu memang sepi. Akhirnya anky sendirian mengangkut tv itu. Pertama-tama dia masih bisa mendorong tv di sepanjang lorong. Masalah mulai timbul saat tv itu harus diangkut melewati tangga. Saya pun akhirnya ikut membantu mendorong si tv dari bawah. Pokoknya kalau dibayangkan lagi, posisi kami saat mengangkut tv ke lantai 2 di malam itu, sangat aneh dan kocak sekali! Masalahnya, tangga yang dilewati itu sempit banget! Sampai anky nyaris terjepit dan tidak bisa melewatinya. Akhirnya setelah melewati perjuangan yang melelahkan, si tv pun berhasil sampai di kamar anky. And now.. please let me introduce you to si Samsung Ultra Slim!

Haha.. Bagus kan? Hhhmmmmm.. Puas rasanya beli barang pakai uang bersama dan untuk tujuan bersama juga.. Walaupun mendadak bokek, tapi rasanya gimanaaaaaa gitu... You should try it guys! ;p

Aku ingin membeli tv72 inchiUntuk bisa aku nikmatiBersama sanak familiMenyenangkan punya televisiLihat dunia yang berwarna-warniAsal jangan acaranya basiCuma bikin keqiAku ingin muncul di tvBuat acara sendiriBukan gossipnya selebritiHarus yang lebih berisiMenyenangkan punya televisiLihat dunia yang berwarna-warniAsal jangan acaranya basiCuma bikin keqiUh... di televisiBanyak orang-orang sok aksiArtis, menteri dan politisiBerlomba cari sensasiAku ingin muncul di tvBuat acara sendiriBukan gossipnya selebritiYang Cuma bikin panjang gigiMenyenangkan punya televisiLihat dunia yang berwarna-warniAsal jangan acaranya basiCuma bikin keqiUh... di televisiBanyak orang-orang sok aksiArtis, menteri dan politisiBerita tak guna lagiTidak trendy lagi Buat apa punya tv-NAIF_TELEVISI

Coklat

Tuesday, July 17, 2007


Saat sedang lesu-lesunya menanti jam makan siang, tiba-tiba Teh Epon, OB di kantor saya, datang membawa senampan penuh coklat. Kayanya ada yang baru pulang dari Swiss lagi nih.. Asyiiiikk.. Dapat coklat gratis! Hehe.. Dari nampan itu,Teh Epon memberikan kepada setiap orang masing-masing empat coklat Cailler mini dan tiga Toblerone mini. Tapi karena salah satu teman saya tidak suka Toblerone (bodoh sekali.. hihi..), akhirnya saya pun mendapatkan satu Toblerone ekstra. Ini dia nih coklat-coklat saya... Hhhmmm.. Looks yummy,right?



Orang-orang di kantor saya ini memang baik hati.. Hampir setiap minggu ada saja makanan yang datang ke meja saya. Ada yang oleh-oleh (itu kalau ada orang kantor yang dapat tugas pergi ke manaaa gitu..), ada yang pemberian karena yang memberi lagi berulang tahun, ada juga yang memberi karena anaknya habis disunat. Haha.. Senangnya.. Bikin semangat kerja meningkat! Hihi..




"Sometimes when we are generous in small, barely detectable ways it can change someone else's life forever."- Margaret Cho

Time (can't) heals

Monday, July 16, 2007

Dulu saya kira saya bukan orang yang pendendam. Dulu saya kira saya orang yang dengan mudah tidak mengingat-ingat kesalahan orang pada saya. Dulu saya kira saya orang yang mencintai damai.

Ternyata saya bukan ketiga orang diatas.

Beberapa luka lama ternyata tetap saya kenang dan tak saya campakan begitu saja. Luka lama itu ternyata tidak kunjung kering dan menutup. Dan setiap seseorang atau sesuatu hadir dari luka-luka tersebut, kebencian memenuhi diri saya. Kebencian yang dulu, yang saya kira telah saya buang jauh-jauh.

Dan saat ini sebuah luka menganga. Sedihnya, luka ini melibatkan orang yang sangat saya cintai. Membuat saya terjepit antara menutup luka itu atau tetap membiarkannya menganga. Selama ini tanpa sadar saya membiarkan luka itu menganga. Namun, luka itu tidak menimbulkan rasa sakit karena ia terlupa, yang membuat saya mengira bahwa luka tersebut telah kering dan menutup. Ternyata tidak.. belum.. atau tidak akan pernah.. saya tidak tahu.

Saat ini seseorang meminta saya untuk memaafkan (kata yang sangat agung..) Untuk menutup dan mengikhlaskan rasa sakit yang pernah mendera saya demi impiannya. Jika saya tidak bisa, taruhannya dia akan pergi. Saya tidak bisa membuatnya memilih antara saya atau impiannya. Hanya ia yang mampu mengendalikan saya. Saya tidak bisa mengendalikannya karena ia begitu kuat dan kokoh seperti batu karang sementara saya hanyalah riak kecil yang tak sanggup menerpanya. Ia pun membuat saya memilih untuk menutup luka saya hingga ia bisa mencapai mimpinya atau tetap membiarkan luka itu meradang dan saya kehilangan dia.

Saya pun menyerah pada Sang Waktu. Saya percaya bahwa beliaulah yang akan menyembuhkan semuanya. Time heals.. begitu kata orang-orang. Saya pun menunggu.

Lama sekali... saya masih menunggu. Untungnya, dia pun bersedia menunggu saya menunggu. Kami pun menunggu. Menunggu dengan sabar karena saat menunggu waktu berjalan pelan sekali seperti siput yang melangkah pelaaaaann..pelaaaaaaaaan sekali.

Tapi ternyata time can't heals.. Karena luka itu tidak mengering sama sekali. Saya tidak bisa karena urusan ini belum selesai. Tidak akan pernah selesai. Kenangan buruk akan kekecewaan yang timbul di masa lalu itu ternyata sungguh dalam. Saya dendam. Ternyata saya adalah orang yang pendendam. Dan satu-satunya cara untuk menghilangkan dendam adalah dengan membalasnya.


Di ujung jalan itu, lampu meredup remang-remang. Yang bisa saya lihat hanyalah punggungnya yang semakin lama semakin mengecil dan berlalu. Ia menepati janjinya. Dan saya tidak pernah lagi bertemu dengannya.

Pagi di Jakarta

Friday, July 13, 2007

Pagi ini saya agak terlambat bangun pagi. Jam di dinding sudah mengarah ke angka 7. Huuuh.. ga sholat subuh deh.. Saya pun bergegas keluar kamar, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Hiiii.. dingiiinn.. Tumben.. Di Jakarta yang panas ini biasanya mandi pun gerah. Tapi pagi ini lain. Saya pun mempercepat ritual mandi saya.

Selesai mandi, hanya dengan berbalut handuk, saya berjingkat sambil setengah-berlari menuju kamar saya yang jaraknya kira-kira 5 - 8 langkah dari kamar mandi. Pakai baju apa ya hari ini? Ga punya baju nih! Haha.. Pertanyaan standar setiap hari. Khas wanita memang, yang dalam bahasa manusia bisa diartikan sebagai " I need Shopping!!" Haha..

Anyway, setelah selesai berpakaian dan berdandan, saya pun melangkah keluar kamar. Get ready.. The 'yucks' part is infront of you.. Yah, ini yang saya benci di pagi hari. Harus berurusan dengan POLUSI dan KOPAJA. Saya pun menyiapkan selembar tissue. Sempat juga terpikir oleh saya, apakah sebaiknya saya selalu menggunakan masker setiap keluar rumah? Tapi nanti pasti diliatin orang.. Ya sudah, daripada tidak pakai sama sekali, trus asma kumat, mending pakai tissue ajah..

Setelah berjalan beberapa menit, saya pun sampai di tepi jalan tempat saya biasa memberhentikan kopaja. Huuh.. Asap dimana-mana! Jakarta...jakarta... Makin hari kok makin berpolusi sih?? Tahu ga? Selama tahun 2006 kemarin, dari 365 hari dalam setahun cuma 45 hari yang berstatus mutu udara 'baik' di Jakarta. Kalau ini dibiarkan, tahun depan pasti makin banyak orang yang sakit asma, kena gangguan pernapasan, kanker paru-paru, gangguan saraf, sampe mati gara-gara sesek napas! Belum lagi dampak timbal pada anak-anak. Emisi yang keluar dari kendaraan dengan bensin yang masih menggunakan timbal bisa membuat anak-anak indonesia terhambat pertumbuhan otaknya! Ahhhh.. mikir sampai botak juga tetep aja pesimis... Pesimis kalau kondisi ini bisa berubah. Sudah bukan sekali dua kali terpikir oleh saya untuk pergi saja dari Indonesia, pindah ke negara lain yang lebih peduli sama lingkungan, yang pemerintahnya ga korupsi melulu, yang pembangunannya terencana dengan baik... Tau ah.. Pusing..

Belum selesai ngedumel tentang polusi, saya harus segera berebut menaiki kopaja saya. This is the 'yucks' part number two. Satu..dua..tiga..hap! Dengan setengah melompat saya menaiki kopaja yang akan membawa saya ke kantor. Baru beberapa detik berada dalam Kopaja, keringat mulai bermunculan di kening saya. Kaki pun mulai terasa pegal akibat tidak kebagian tempat duduk. Serombongan orang di tepi jalan tampak akan menaiki kopaja yang sudah penuh ini. Gila.. Mau ditaro dimana orang-orang itu??

Uuuuugghhh.. sekarang saya tidak perlu lagi berpegangan karena badan saya sudah diapit dengan sangat kuat oleh orang-orang di sekeliling saya. Yang terpikir saat itu hanyalah mengamankan barang bawaan saya. Nah, sebentar lagi saya turun, tapi kok keneknya ga nagih duit ya..? Tampaknya saking penuhnya kopaja ini, sang kenek sampai tidak bisa lewat untuk menagih orang-orang yang jauh di depannya. Ah, biar saja, saya pikir. Toh pelayanan mereka juga sangat tidak memuaskan.

Kampus..kampus...!! Kenek itu mulai berteriak-teriak.

Saatnya turun. Dengan sedikit mendorong, menyikut dan ber-"misi..misi..." akhirnya saya berhasil keluar dari kerumunan orang-orang di dalam kopaja dan berdiri di pintu kopaja untuk bersiap-siap turun. Wah, keneknya mana nih? Saya kan belum bayar..

Kemudian kopaja berhenti dan saya pun turun, tentunya dengan kaki kiri terlebih dahulu. Fiuuuhhhh.... Keluar juga akhirnya. Tapi.. saya benar-benar tidak bayar lho.. Hahaha.. Entah kenapa saya menganggap hal ini memuaskan. Saya merasa senang berhasil merugikan si kenek dan sopir yang sangat saya benci itu. (Habis kalau ngetem ga kira-kira lamanya, padahal kopaja dah penuh.. Trus pake acara sok-sok nge-gas gitu lagi yang notabene memproduksi emisi kadar tinggi! Woi pak! Ini nih yang bikin saya sakit asma!! )

Yah.. mungkin seharusnya saya tidak menyalahkan supir dan kenek itu karena memang banyak faktor yang mempengaruhinya. Tapi saya memang marah sama mereka! Karena semenjak saya mulai hidup di Jakarta sudah berkali-kali saya sesak napas. Oleh karena itu, pagi ini saya merasa puaaaassss sekali karena berhasil melampiaskan kekesalan saya pada Jakarta melalui Kopaja-nya... Hahaha.... Rasain!

Im Back!

Thursday, July 12, 2007

Hi guys!!

Sudah setahun tidak berjumpa! Setelah melihat perkembangan teman-teman saya yang rajin nge-blog, saya jadi tergiur untuk kembali mengaktifkan blog ini. So now, please welcome me! ;)