setitik asa

Monday, March 27, 2006

Keluh dan peluh bercucur senantiasa bumi terus berputar
Mentari berpijar menyiksa bulan yang tak kuasa keluar

Hari ini adalah kemarinku yang layu
Beningnya pagi tlah lenyap digiring tari
Gerak-gerik yang menyeretku ke tebing nestapa
Dimana terkumpul seluruh gelap yang pernah ada

Ingin ku bertemu esok
Agar kebisuan ini dapat ku runtuhkan
Agar kegelapan ini kembali disapa cahaya
Namun cahaya disaat ini adalah emas permata
Seuatu yang langka dan tanpa tawa

Kapan jendela itu terbuka?
Agar ku bisa meraih keluasan yang terbentang di muka
Atau setidaknya anak tangga,
Untukku merambat ke permukaan dan menatap surga
Sehingga sirna semua gulita

Oh, wahai sang Maha
Aku hanya butuh setitik asa..