Time (can't) heals

Monday, July 16, 2007

Dulu saya kira saya bukan orang yang pendendam. Dulu saya kira saya orang yang dengan mudah tidak mengingat-ingat kesalahan orang pada saya. Dulu saya kira saya orang yang mencintai damai.

Ternyata saya bukan ketiga orang diatas.

Beberapa luka lama ternyata tetap saya kenang dan tak saya campakan begitu saja. Luka lama itu ternyata tidak kunjung kering dan menutup. Dan setiap seseorang atau sesuatu hadir dari luka-luka tersebut, kebencian memenuhi diri saya. Kebencian yang dulu, yang saya kira telah saya buang jauh-jauh.

Dan saat ini sebuah luka menganga. Sedihnya, luka ini melibatkan orang yang sangat saya cintai. Membuat saya terjepit antara menutup luka itu atau tetap membiarkannya menganga. Selama ini tanpa sadar saya membiarkan luka itu menganga. Namun, luka itu tidak menimbulkan rasa sakit karena ia terlupa, yang membuat saya mengira bahwa luka tersebut telah kering dan menutup. Ternyata tidak.. belum.. atau tidak akan pernah.. saya tidak tahu.

Saat ini seseorang meminta saya untuk memaafkan (kata yang sangat agung..) Untuk menutup dan mengikhlaskan rasa sakit yang pernah mendera saya demi impiannya. Jika saya tidak bisa, taruhannya dia akan pergi. Saya tidak bisa membuatnya memilih antara saya atau impiannya. Hanya ia yang mampu mengendalikan saya. Saya tidak bisa mengendalikannya karena ia begitu kuat dan kokoh seperti batu karang sementara saya hanyalah riak kecil yang tak sanggup menerpanya. Ia pun membuat saya memilih untuk menutup luka saya hingga ia bisa mencapai mimpinya atau tetap membiarkan luka itu meradang dan saya kehilangan dia.

Saya pun menyerah pada Sang Waktu. Saya percaya bahwa beliaulah yang akan menyembuhkan semuanya. Time heals.. begitu kata orang-orang. Saya pun menunggu.

Lama sekali... saya masih menunggu. Untungnya, dia pun bersedia menunggu saya menunggu. Kami pun menunggu. Menunggu dengan sabar karena saat menunggu waktu berjalan pelan sekali seperti siput yang melangkah pelaaaaann..pelaaaaaaaaan sekali.

Tapi ternyata time can't heals.. Karena luka itu tidak mengering sama sekali. Saya tidak bisa karena urusan ini belum selesai. Tidak akan pernah selesai. Kenangan buruk akan kekecewaan yang timbul di masa lalu itu ternyata sungguh dalam. Saya dendam. Ternyata saya adalah orang yang pendendam. Dan satu-satunya cara untuk menghilangkan dendam adalah dengan membalasnya.


Di ujung jalan itu, lampu meredup remang-remang. Yang bisa saya lihat hanyalah punggungnya yang semakin lama semakin mengecil dan berlalu. Ia menepati janjinya. Dan saya tidak pernah lagi bertemu dengannya.