Pagi di Jakarta

Friday, July 13, 2007

Pagi ini saya agak terlambat bangun pagi. Jam di dinding sudah mengarah ke angka 7. Huuuh.. ga sholat subuh deh.. Saya pun bergegas keluar kamar, menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Hiiii.. dingiiinn.. Tumben.. Di Jakarta yang panas ini biasanya mandi pun gerah. Tapi pagi ini lain. Saya pun mempercepat ritual mandi saya.

Selesai mandi, hanya dengan berbalut handuk, saya berjingkat sambil setengah-berlari menuju kamar saya yang jaraknya kira-kira 5 - 8 langkah dari kamar mandi. Pakai baju apa ya hari ini? Ga punya baju nih! Haha.. Pertanyaan standar setiap hari. Khas wanita memang, yang dalam bahasa manusia bisa diartikan sebagai " I need Shopping!!" Haha..

Anyway, setelah selesai berpakaian dan berdandan, saya pun melangkah keluar kamar. Get ready.. The 'yucks' part is infront of you.. Yah, ini yang saya benci di pagi hari. Harus berurusan dengan POLUSI dan KOPAJA. Saya pun menyiapkan selembar tissue. Sempat juga terpikir oleh saya, apakah sebaiknya saya selalu menggunakan masker setiap keluar rumah? Tapi nanti pasti diliatin orang.. Ya sudah, daripada tidak pakai sama sekali, trus asma kumat, mending pakai tissue ajah..

Setelah berjalan beberapa menit, saya pun sampai di tepi jalan tempat saya biasa memberhentikan kopaja. Huuh.. Asap dimana-mana! Jakarta...jakarta... Makin hari kok makin berpolusi sih?? Tahu ga? Selama tahun 2006 kemarin, dari 365 hari dalam setahun cuma 45 hari yang berstatus mutu udara 'baik' di Jakarta. Kalau ini dibiarkan, tahun depan pasti makin banyak orang yang sakit asma, kena gangguan pernapasan, kanker paru-paru, gangguan saraf, sampe mati gara-gara sesek napas! Belum lagi dampak timbal pada anak-anak. Emisi yang keluar dari kendaraan dengan bensin yang masih menggunakan timbal bisa membuat anak-anak indonesia terhambat pertumbuhan otaknya! Ahhhh.. mikir sampai botak juga tetep aja pesimis... Pesimis kalau kondisi ini bisa berubah. Sudah bukan sekali dua kali terpikir oleh saya untuk pergi saja dari Indonesia, pindah ke negara lain yang lebih peduli sama lingkungan, yang pemerintahnya ga korupsi melulu, yang pembangunannya terencana dengan baik... Tau ah.. Pusing..

Belum selesai ngedumel tentang polusi, saya harus segera berebut menaiki kopaja saya. This is the 'yucks' part number two. Satu..dua..tiga..hap! Dengan setengah melompat saya menaiki kopaja yang akan membawa saya ke kantor. Baru beberapa detik berada dalam Kopaja, keringat mulai bermunculan di kening saya. Kaki pun mulai terasa pegal akibat tidak kebagian tempat duduk. Serombongan orang di tepi jalan tampak akan menaiki kopaja yang sudah penuh ini. Gila.. Mau ditaro dimana orang-orang itu??

Uuuuugghhh.. sekarang saya tidak perlu lagi berpegangan karena badan saya sudah diapit dengan sangat kuat oleh orang-orang di sekeliling saya. Yang terpikir saat itu hanyalah mengamankan barang bawaan saya. Nah, sebentar lagi saya turun, tapi kok keneknya ga nagih duit ya..? Tampaknya saking penuhnya kopaja ini, sang kenek sampai tidak bisa lewat untuk menagih orang-orang yang jauh di depannya. Ah, biar saja, saya pikir. Toh pelayanan mereka juga sangat tidak memuaskan.

Kampus..kampus...!! Kenek itu mulai berteriak-teriak.

Saatnya turun. Dengan sedikit mendorong, menyikut dan ber-"misi..misi..." akhirnya saya berhasil keluar dari kerumunan orang-orang di dalam kopaja dan berdiri di pintu kopaja untuk bersiap-siap turun. Wah, keneknya mana nih? Saya kan belum bayar..

Kemudian kopaja berhenti dan saya pun turun, tentunya dengan kaki kiri terlebih dahulu. Fiuuuhhhh.... Keluar juga akhirnya. Tapi.. saya benar-benar tidak bayar lho.. Hahaha.. Entah kenapa saya menganggap hal ini memuaskan. Saya merasa senang berhasil merugikan si kenek dan sopir yang sangat saya benci itu. (Habis kalau ngetem ga kira-kira lamanya, padahal kopaja dah penuh.. Trus pake acara sok-sok nge-gas gitu lagi yang notabene memproduksi emisi kadar tinggi! Woi pak! Ini nih yang bikin saya sakit asma!! )

Yah.. mungkin seharusnya saya tidak menyalahkan supir dan kenek itu karena memang banyak faktor yang mempengaruhinya. Tapi saya memang marah sama mereka! Karena semenjak saya mulai hidup di Jakarta sudah berkali-kali saya sesak napas. Oleh karena itu, pagi ini saya merasa puaaaassss sekali karena berhasil melampiaskan kekesalan saya pada Jakarta melalui Kopaja-nya... Hahaha.... Rasain!