Hujan

Tuesday, February 22, 2005

Raindrops are falling on my head...


Untuk Hujan,



Hujan di luar jendelaku. Satu hal biasa yang senantiasa memenuhi piring sarapan pagiku. Memang, kota ini selalu diliputi hujan kapanpun aku mengerjapkan mata. Kapanpun kau mengerjapkan mata. Selalu tetes-tetes itu, rembesan-rembesan itu yang terkadang membawa mendung itu kembali lagi ke hatiku.

Entah kenapa, pagi ini aku muak.

Muak dengan tetes-tetes itu, dengan rembesan-rembesan itu yang biasanya selalu aku nikmati. Selalu aku cicipi di kala pagi mulai membangunkan hatiku. Hujan senantiasa menjadi sahabatku, menjadi pucuk-pucuk harapanku, menjadi tumpuan asa bagiku untuk tabah meniti tali panjang hari-hariku. Karena biasanya, jika hujan sedang berbaik hati kepadaku, ia senantiasa meniupkan sebaris pelangi untuk ku kecupi. Desiran angin, bau rumput basah, suara air yang menghantam kerikil, terkadang cipratan-cipratan dari kubangan, turut meperkaya pagiku yang diciptakan oleh sang hujan. Membuatku bahagia sekaligus menangis. Membuatku terbangun sekaligus tertidur kembali. Membuatku menatap kenyataan sekaligus ingin menutupnya rapat-rapat dalam gelap.


Tapi pagi ini aku muak...

Ya, muak denganmu hujan.

Dikala aku merenung mengenaimu sekaligus menancapkan makna-makna hidup di dasar otakku, membelai hatiku dan membujuknya agar menerima semua yang sudah digariskan oleh sang pencipta, aku menyadari sesuatu. Engkau bukanlah sahabatku, bukan pula musuhku. Kau, hujan, hanya garis-garis manis yang membatasi pinggiran kertas tempat seluruh cerita hidupku tertuang. Hanyalah rembesan-rembesan yang mampu melunturkan kesedihanku, namun sekaligus menghamtamkan kepalaku kembali kepada sekelumit kehidupan yang kadang kupikir tak berarti, yang terbentang di depan pintu rumahku. Walaupun berbagai kenangan telah terjalin antara aku dan hujan, semua menjadi lapur tak berarti.

Seperti pagi itu,
Saat aku dan kekasihku sedang berpiknik dengan riang di padang rumput di hutan belakang sekolahku, tertawa bahagia karena berhasil membolos dari sekolah untuk bercumbu hingga bosan, hujanlah yang membuyarkan semua tawa kami. Melengkungkan bibirku dari senyum menjadi sendu. Menghapus rona di pipiku menjadi biru dan kelabu.

Seperti sore itu,
Saat aku berseteru dengan kekasihku, dan aku berlari pergi menjauhinya, hujanlah yang menyambutku. Yang menebus isakku dengan deras suaranya. Yang membelai rambutku dengan tetesan-tetesannya. Namun, hujan pulalah yang berjasa menghamburkan kekasihku kembali padaku dan memelukku yang telah basah dan kedinginan. Hujan telah membuat kekasihku tak rela untuk melihatku disiksa dengan kebekuan yang mencekam yang tercipta dari gumpalan awan hitam di atas sana.

Seperti juga malam itu,
Saat kekasih pergi meninggalkanku, hanya semata demi perempuan yang lebih sempurna, hujanlah yang memelukku dan membiarkan tangisku pecah di bahunya. Ialah yang membiarkanku menguras habis semua emosiku, namun tetap menjagaku untuk tetap berdiri, kembali mengangkat tinggi-tinggi kepalaku, dan kemudian melangkah lagi.

Dan kini, aku semakin keras berpikir. Berusaha menentukan, apakah engkau- hujan, adalah sahabatku atau musuh terberatku. Apakah engkau memiliki maksud tersembunyi ketika mengetuk kaca jendelaku di pagi hari? Apakah engkau jujur dan rela saat ku mencerca kehidupan di depan hidungmu? Apakah engkau tulus memelukku...? Karena terkadang kau hadir di sela-sela kebosananku dan memberiku sekantung pelangi kesukaanku. Kau muncul saat kekeringan sedang melanda hatiku dan kemudian membanjiriku dengan suara-suara merdu yang keluar darimu. Namun rasanya, aku tahu jawabnya.

Bosan.

Yah, mungkin pagi ini aku hanya bosan melihatmu. Bukankah sesorang juga berhak untuk bosan kepada sahabatnya? Maaf jika aku sempat meragukan kesetiaanmu dan meremehkan kenangan-kenangan kita. Kau tetaplah sahabat terbaikku walaupun kau beberapa kali merusak rencanaku saat aku akan menapaki hariku di siang hari. Membuatku enggan beranjak dari kehangatan kasur dan selimutku untuk menjalankan kewajiban-kewajibanku. Membuatku ingin terus bermimpi atau merenung atau hanya sekedar menyesap coklat panas di beranda rumahku sambil menikmati sensasi yang kau beri dan kemudian melupakan seluruh tangung jawabku. Namun, kusadari bahwa kau tak pernah meninggalkanku. Kau tidak pernah berniat merusak hariku bahkan mungkin kau sengaja menunda awal perjalananku di hari itu agar aku terhindar dari celaka. Tidak ada yang tahu bukan? Kau juga selalu ada saat aku membutuhkanmu. Walaupun aku sadar, bahwa kau tak bisa hanya kumiliki sendiri. Kau adalah milik semua makhluk hidup di jagat ini. Tapi ku percaya bahwa kau takkan pernah melupakanku. Kau takkan pernah memalingkan wajahmu dari hari-hariku. Karena kau adalah sahabat terbaikku.

Jangan bersedih wahai hujan, jika kau menemukan seseorang yang mengumpat dan mencaci kehadiranmu di luar jendelanya. Mereka hanya belum menyadari betapa hebatnya engkau memelihara seluruh makhluk di bumi ini. Termasuk memeliharaku.




-Untuk hujan yang selalu menemani kesepianku.-